Mewariskan pengetahuan: “Tulis apa yang ingin dibaca”

  • Hari 257: Jangan Sampai Hilang di Kantor

    Hari ini saya mungkin sedikit mendobrak dunia kantor. Saya memberikan punishment kepada orang yang paling minim chat di grup kantor yang isinya justru bukan kerjaan. Isinya bercanda. Receh. Kadang random. Kalau dilihat sekilas memang aneh. Kenapa orang harus dihukum hanya karena tidak aktif di grup bercanda? Tapi karena kantor kami mayoritas WFH dan orang bekerja…

  • Hari 256: Produktif Tidak Harus Tergesa

    Sempat keteteran, akhirnya hari ini selesai juga buku ke-28 dari target 52 buku tahun ini. Bukunya Slow Productivity karya Cal Newport. Lucunya, saya membeli buku ini bukan karena sedang mencari topik tentang produktivitas. Lebih karena penerbitnya sama dengan beberapa buku lain yang saya punya, lalu kebetulan ini Cal Newport. Padahal buku dia yang pernah saya…

  • Hari 255: Jam Buka Juga Janji

    Hari ini Sabtu. Tidak kerja. Saya cuma keluar rumah untuk mengambil barang, menaruh barang, lalu tanpa sengaja malah kepikiran soal jam operasional usaha. Awalnya dari laundry. Biasanya saya datang sambil melakukan dua hal sekaligus: mengambil cucian yang sudah selesai dan menaruh cucian berikutnya. Hari ini seharusnya buka, tapi ternyata tutup. Akhirnya sederhana saja konsekuensinya: harus…

  • Hari 254: Ekspektasi Harus Ditagih

    Hari ini menyenangkan karena satu metode yang saya coba ternyata bekerja. Kadang kita punya tim, partner, atau staf yang menurut kita sering miss. Ada yang kelewat. Ada yang tidak sesuai ekspektasi. Ada hal yang sebenarnya pernah kita sampaikan, tetapi beberapa waktu kemudian ternyata tidak berubah. Lalu kita kecewa. Masalahnya, setelah saya pikir-pikir lagi, sering kali…

  • Hari 253: Beda Rumah, Tetap Satu Ruang

    Hari ini saya mencoba satu konsep yang cukup sederhana. Semua tetap bekerja dari rumah masing-masing, tapi selama beberapa jam kami tersambung di Zoom. Bukan meeting. Bukan juga sesi presentasi. Ya bekerja saja. Masing-masing mengerjakan pekerjaannya, tapi tetap berada di satu ruang virtual yang sama. Saya penasaran apakah model seperti ini bisa memberi rasa bekerja bersama…

  • Hari 252: Perusahaan Harus Tetap Jalan

    Hari ini ada satu pertanyaan yang awalnya kelihatannya sederhana: bagaimana kalau ada karyawan minta izin untuk ibadah umroh? Kita belum punya aturan yang benar-benar baku. Apakah menggunakan cuti tahunan? Apakah perlu special paid leave? Kalau nanti ada yang haji bagaimana? Lalu kalau orang sudah bekerja cukup lama, apakah bisa mendapat sabbatical leave seperti yang cukup…

  • Hari 251: Terkirim Belum Tentu Tersampaikan

    Hari ini saya kembali belajar sesuatu yang sebenarnya sederhana: memberi instruksi lewat chat ternyata tidak semudah yang saya kira. Pesannya sudah diketik. Sudah dikirim. Menurut saya juga cukup jelas. Tapi ternyata maksudnya tidak tertangkap dengan benar. Bisa jadi dibaca dengan interpretasi berbeda. Bisa jadi dilewatkan. Bahkan bisa jadi sebenarnya tidak dibaca sama sekali. Ini menarik…

  • Hari 250: AI Bukan Cuma Alat Bantu

    Hari ini saya memasukkan banyak masalah yang sedang saya hadapi, saya dengar, atau muncul dari tim ke AI. Bukan untuk sekadar bertanya, “Solusinya apa?” Saya justru ingin melihat: kalau konteksnya saya masukkan cukup banyak, problem-nya saya jelaskan, jawabannya saya challenge lagi, seberapa pintar AI bisa membantu saya membaca sesuatu? Buat sebagian orang, mungkin AI lebih…

  • Hari 249: Distraksi Bukan Cuma Notifikasi

    Hari ini selesai buku ke-27 dari target 52 buku tahun ini. Bukunya Indistractable karya Nir Eyal. Menariknya, Nir Eyal juga menulis Hooked, buku yang membahas bagaimana sebuah produk bisa membuat orang terus kembali menggunakannya. Bagaimana aplikasi, produk, dan kebiasaan bisa membuat kita seperti “terkait” terus dengan sesuatu. Nah, Indistractable seperti melihatnya dari sisi sebaliknya. Kalau…

  • Hari 248: Jangan Sia-siakan Sehat

    Alhamdulillah, kalau melihat hidup saya selama ini, rasanya saya termasuk orang yang jauh lebih sering sehat dibanding sakit. Dan di perusahaan saya punya satu istilah internal yang agak absurd: dilarang sakit. Tentu bukan berarti orang benar-benar tidak boleh sakit. Ada penyakit yang datang tanpa kita pilih. Ada kecelakaan. Ada kondisi tubuh yang memang tidak bisa…

Mau baca jawaban saya? tanya saja.